Selasa, 18 Januari 2011

Yang disebut Petinju Legendaris Seperti ini ...

Petinju legendaris adalah julukan yang diberikan kepada petinju yang sudah melegenda karena prestasi besarnya, terus dikenang sebagai petinju terbaik sepanjang masa. Bila ditanyakan, “Siapakah petinju yang pantas menyandang gelar “petinju legendaris?”
Pertanyaan sulit, setiap orang mungkin akan berbeda-beda jawabannya. Ada yang menjawab Muhammad Ali, Mike Tyson, Rocky Marciano, Joe Louis, Julio Cesar Chavez,  Lary Holmes, Oscar De La Hoya, Many Pacquiao, bahkan Chris John!
Faktor Utama
Ada banyak faktor yang bisa membuat seorang petinju memperoleh gelar “legendaris”, namun faktor utamanya adalah:
1.    Teknik bertinju
Tak dipungkiri, teknik bertinju adalah salah satu faktor utama. Dalam dunia tinju profesional ada empat jenis pukulan standar, yaitu upper cut, jab, hook/long hook, dan straight, disamping teknik lainnya seperti clinch dan double cover.
Biasanya, para legendaris menguasai semua teknik ini dengan baik, namun minimal ada satu senjata utama yang menjadi andalannya dalam menjatuhkan lawan-lawannya.
•    Upper cut adalah pukulan pendek dari bawah ke atas dengan sasaran ulu hati atau rahang lawan. Jenis pukulan ini adalah salah satu andalan untuk menjatuhkan lawan. Lary Holmes dikenal piawai menggunakan pukulan ini untuk menjatuhkan lawannya, karena memang pukulan ini efektif digunakan untuk petinju bertubuh pendek seperti Lary Holmes.
•    Hook/long hook adalah pukulan yang menyerupai kait (hook berarti kait dalam bahasa Inggris) yang dilontarkan dari arah samping dan melengkung ke arah wajah. Petinju Muhammad Ali memiliki teknik pukulan long hook yang indah, ia melontarkan long hook-nya dari jarak yang jauh diikuti dengan gerakan kaki yang lincah, seperti sedang “menari”.
Sampai saat ini tak ada petinju lain yang mampu mengikuti teknik pukulan hook Muhammad Ali ini. Oleh karenanya diantara seluruh petinju legendaris, teknik bertinju Muhammad Alilah yang paling indah untuk dinikmati.
Sedangkan Mike Tyson ditakuti lawan-lawannya karena memiliki pukulan hook yang sangat keras dan kerap menjatuhkan lawan-lawannya dengan satu kali pukulan, oleh karenanya di saat jayanya  Mike Tyson hanya memerlukan waktu yang singkat untuk menjatuhkan lawannya.
•    Straight adalah pukulan lurus ke depan, dengan kepala sebagai target utamanya. Pukulan ini biasa digunakan untuk petinju yang memiliki jangkauan yang lebih panjang, untuk menjaga jarak dari lawan. Oscar De La Hoya dikenal efektif menggunakan straight untuk mengumpulkan perolehan angka sekaligus menguras tenaga lawannya.
•    Jab, biasanya pukulan ini berfungsi sebagai pukulan pembuka dalam suatu serangan atau untuk mengganggu konsentrasi lawan. Jadi, bukan pukulan andalan untuk menjatuhkan lawan. Walau adakalanya lawan dapat KO karena pukulan jab yang sangat keras, seperti jab yang dimiliki oleh Julio Cesar Chavez .
•     Ada juga jenis pukulan yang merupakan modifikasi dari keempat pukulan standar ini, seperti cross (modifikasi antara straight dan upper cut) dengan target mengenai rahang lawan. Disamping itu, ada beberapa teknik lainnya dalam bertinju seperti double cover (melindungi diri dengan menggunakan kedua tangan), clinch (berpelukan) dan lain sebagainya.
2.    Rekor bertanding
Disamping teknik bertinju yang berkelas, seorang petinju legendaris memiliki rekor yang fantastis. Sampai saat ini satu-satunya rekor tak terkalahkan dalam tinju professional masih dipegang oleh legenda Italia yaitu Rocky Marciano.
Sepanjang karir profesionalnya ia telah membukukan kemenangan sebanyak 49 kali tanpa terkalahkan dengan 43 kemenangan KO! Tak heran bila perjalanan karirnya diadopsi ke dalam dunia film dan lumayan sukses. Namun bagi sebagaian orang rekor fantastis Marciano, sang  legenda ini diuntungkan oleh ketiadaan lawan sepadan di usia keemasannya.
Hanya 3 petinju hebat yang pernah dihadapinya, dan ketiganya tersebut sudah melewati masa keemasaanya, yaitu yaitu Joe Louis (37), Jersey Joe walcott (39), waktu dan Archie Moore (39). Sedangkan petinju hebat sesudahnya seperti Sony Liston atau Muhammad Ali belum muncul.
3.    Gelar Juara
Prestasi seorang petinju dapat dilihat dari gelar juara yang dikoleksinya. Beberapa petinju bahkan dapat menyatukan gelar dari beberapa badan tinju dunia dan dari kelas yang berbeda.
Untuk urusan yang satu ini petinju Philipina Manny Pacquiao nampaknya yang “juara”. Ia berhasil mengoleksi gelar di 7 kelas yang berbeda! Namun saat ini ia masih aktif naik ke atas ring, jadi belum diketahui pasti bagaimana akhir prestasinya  hingga mengundurkan diri nanti.
4.    Rentang waktu juara dan kualitas lawan
Nampaknya Muhammad Ali  berhak menempati posisi teratas karena berhasil menjadi juara dunia 3 kali selama 3 dekade. Padahal di masanya banyak bercokol petinju-petinju terbaik lainnya yang tak kalah hebatnya seperti Sonny Liston, Floyd Patterson, George Foreman, Ken Norton, Joe Frazier,dan Emie Shavers.
Lain halnya  dengan Joe Louis, petinju berjuluk  "The Brown Bomber" ini dianggap legendaris karena mampu mempertahankan gelar juara dunianya selama 13 tahun dari 1937 sampai 1950. Sejak pertama kali menjadi juara dunia ia telah mempertahankan gelarnya sebanyak 25 kali, dengan 21 kali kemenangan KO!
Di antara keempat faktor di atas, ada faktor X yang oleh sebagian pengamat dianggap memperkuat alasan menjadi seorang legendaris, yaitu sikap di luar ring.
Bagi sebagian petinju faktor ini dianggap menjatuhkan karena kebanyakan mereka dianggap “bermasalah”. Mike Tyson misalnya, sempat dibui karena  berbagai kasus yang menimpanya. Namun tidak bagi Mohammad  Ali, lagi-lagi ia berhasil meraih simpati.
Ia menolak ikut wajib militer dan terlibat  perang Vietnam, walau akhirnya gelar juara dunianya harus dicopot, namun ia tetap kukuh pendiriannya. Bahkan sebagai bentuk protesnya ia membuang medali emas olimpiade yang berhasil diperolehnya dengan susah payah. Tak heran bila ia menyandang gelar “The Greatest”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar